Tragedi Pembunuhan IRT di Pidie: Keluarga Korban Berjuang untuk Keadilan

  • Bagikan
Keluarga korban pembunuhan di Kabupaten Pidie saat menggelar konferensi pers di Lhokseumawe, Ahad 2 Juni 2024. Foto: Humas CaKRA

MITABERITA.com | Kekejaman tak berbelas kasihan kembali mengguncang Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, dengan kisah tragis pembunuhan seorang ibu rumah tangga, Ayu Sri Wahyuni Ningsih, 35 tahun, di Gampong Pulo Lhoih, Kecamatan Titeu, pada 11 Januari lalu.

Namun, yang membuat kisah itu semakin menghebohkan tak hanya soal peristiwa mengerikan itu sendiri, melainkan juga dengan perjuangan keras dari keluarga korban untuk mendapatkan keadilan.

Pelaku pembunuhan, berinisial M merupakan suami dari korban sendiri, yang melampiaskan cemburu butanya dengan kejam menghabisi nyawa istrinya. Motifnya, pelaku mencurigai perselingkuhan istrinya.

Dalam konferensi pers yang mengharukan di Lhokseumawe pada Ahad 2 Juni 2024, keluarga korban dengan penuh kesedihan meminta agar pelaku dihukum setimpal dengan kejahatannya.

Megawati selaku kakak korban, dengan tegas menyatakan bahwa adiknya tidak pernah berselingkuh, menepis segala fitnah yang beredar. Dia menggambarkan betapa adiknya sering kali menjadi korban kekerasan dan ancaman bunuh dari suaminya yang cemburu buta tanpa bukti yang jelas.

Namun, dalam proses hukum yang sedang berlangsung, tuntutan jaksa penuntut umum tidak sepenuhnya memenuhi harapan keluarga. Meskipun tersangka didakwa atas tindak pidana pembunuhan berencana, tuntutan hukuman 14 tahun penjara masih dirasa kurang memadai.

Ketua YLBH CaKRA, Fakhrurrazi, menjelaskan bahwa proses persidangan masih berlangsung, dan putusan akhir tetap berada di tangan majelis hakim. Meskipun demikian, dia menegaskan bahwa keluarga korban patut mendapatkan keadilan yang pantas.

Kebrutalan dalam kasus ini mencuat ketika detail-detail keji pembunuhan terungkap. Pelaku tidak hanya mencekik leher korban secara sadis, tetapi juga tidur semalaman dengan jenazah istrinya yang telah terbujur kaku.

Upaya untuk menyembunyikan jejak dengan membeli karung dan membungkus mayat menjadi tindakan yang semakin mengguncangkan dan bikin miris.

Reaksi dari masyarakat pun tak kalah heboh. Kisah ini menjadi sorotan utama di media sosial, memicu tanda tanya atas keadilan dalam sistem hukum.

Dukungan untuk keluarga korban mengalir deras, dengan seruan untuk memastikan bahwa pelaku mendapat hukuman setimpal dengan kejahatannya.

Sementara itu, proses persidangan terus berlanjut, dan harapan untuk keadilan tetap berkobar. Namun, tragedi ini menjadi pengingat akan urgensi penanganan kekerasan dalam rumah tangga dan perlunya sistem hukum yang adil bagi semua.

“Semoga, dari kesedihan yang mendalam ini, keadilan sejati dapat ditemukan bagi Ibu Ayu Sri Wahyuni Ningsih dan keluarganya,” kata Ketua CaKRA, Fakhrurrazi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *