Pembunuh Keji itu Tewas di Penjara

  • Bagikan
Foto - Ilustrasi (Thinkstock/Darrin Klimek)

MITABERITA.com | Sebuah peristiwa mengejutkan terjadi di penjara, Robert Pickton, seorang pembunuh berantai yang mengerikan di Kanada, dinyatakan tewas setelah diserang sesama narapidana.

Pickton, yang divonis penjara seumur hidup pada tahun 2007 karena pembunuhan brutal terhadap enam wanita, meninggal pada Jumat waktu setempat, dua minggu setelah serangan itu terjadi.

Robert Pickton, seorang mantan peternak babi dari Kanada bagian barat, telah menjadi sosok yang menakutkan di kalangan masyarakat Kanada karena kejahatannya yang mengerikan.

Seperti dilansir Detikcom, meskipun hanya dihukum atas enam pembunuhan, diperkirakan bahwa Pickton telah membunuh lebih banyak wanita.

Kejadian tragis itu terjadi di Quebec, di mana Pickton meninggal “di rumah sakit karena luka-luka akibat serangan dari sesama narapidana pada 19 Mei 2024,” demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh Lembaga Pemasyarakatan Kanada, dilansir oleh AFP.

Para korbannya, sebagian besar pekerja seks, pecandu narkoba, atau penduduk asli, dibunuh antara tahun 1997 dan 2001. Penangkapan Pickton pada tahun 2002 mengungkap kekejaman yang tak terbayangkan, dengan sisa-sisa jasad dan DNA beberapa korban ditemukan di peternakannya di Port Coquitlam, British Columbia.

Selama persidangannya yang berlangsung selama 18 bulan, terungkap bagaimana polisi menemukan bukti mengerikan tentang kejahatan Pickton, termasuk kepala dan tangan beberapa korban yang disimpan di ember di peternakan babinya, serta tulang-belulang yang ditemukan di bawah kandang babi.

Meskipun Pickton mengklaim telah membunuh total 49 wanita, penyelidikan dan proses hukum hanya mampu membuktikan enam kasus pembunuhan tersebut.

Kasus Pickton telah menyoroti kelemahan dalam sistem penegakan hukum Kanada, terutama dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan orang-orang yang rentan seperti pekerja seks dan pecandu narkoba.

Kepergiannya mungkin membawa rasa lega bagi banyak orang, tragedi yang diakibatkannya tetap menjadi luka yang mendalam dalam sejarah Kanada.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *