Dugaan Penganiayaan Santri Mulai Diselidiki Polisi

  • Bagikan
Dugaan Penganiayaan Santri Mulai Diselidiki Polisi. Foto: dok. Parapuan.co

MITABERITA.com | Kisah tragis seorang santri, AHK (13), yang diduga menjadi korban tindak penganiayaan oleh kakak kelasnya, TF (14), di Dayah Nurul Islam, Aceh Utara, telah memunculkan tuntutan keadilan. Insiden yang terjadi pada Jumat, 12 Januari 2024 lalu itu mengguncang hati orangtua korban.

Menurut kronologi yang diceritakan oleh orang tua korban, Herawati, kepada wartawan, kejadian bermula saat sepupu AHK datang ke rumah dengan membawa AHK yang telah berlumuran darah dan wajahnya membengkak. Korban dilaporkan telah dianiaya oleh TF, kakak kelasnya, di lingkungan dayah.

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh AHK, peristiwa itu terjadi seusai melakukan kegiatan gotong royong, dimana TF meminta air pada AHK namun ditolak, yang kemudian berujung pada aksi kekerasan yang melibatkan pemukulan hingga korban mengalami patah hidung.

Namun, respons dan penanganan dari pihak dayah dinilai kurang memadai oleh orang tua korban. Meskipun upaya mediasi telah dilakukan, namun perbedaan antara pihak korban dan pelaku dalam negosiasi ganti rugi belum juga menemukan titik temu.

Di tengah tuntutan keadilan yang semakin menguat, orang tua korban bersikeras untuk memperjuangkan hak-hak anak mereka melalui proses hukum yang adil dan tuntas.

Mereka meminta agar kasus ini tidak hanya menjadi perhatian sesaat, tetapi juga menjadi momentum untuk memastikan keselamatan dan keadilan bagi semua santri di lingkungan pendidikan.

“Hingga saat ini kami sudah melaporkan ke polres Lhokseumawe, kami juga sudah dipanggil sebagai saksi, semua sudah di panggil termasuk tengku dayah, orang tua pelaku dan pelaku,” ungkap ibu korban, dalam keterangan yang dikutip MITABERITA.com, Sabtu 8 Juni 2024.

Kepolisian setempat telah memulai penyelidikan serius terkait kasus ini. Meskipun tanggapan resmi dari pihak kepolisian masih menunggu hasil lebih lanjut dari proses penyelidikan. Laporan dari orang tua korban telah diterima dan prosesnya sedang berlangsung.

Di sisi lain, pihak dayah membantah bahwa insiden ini merupakan penganiayaan. Menurut pimpinan dayah, peristiwa tersebut merupakan perkelahian antar santri yang dimulai oleh AHK yang mengolok TF dan memanggilnya dengan nama orang lain.

“Menurut saya itu panjang kronologisnya, orang tuanya tidak menceritakan kenapa dia bisa dipukul, ini bukan penganiayaan melainkan perkelahian antar santri, jadi untuk penarikan handuk itu dilakukan,” kata Pimpinan Dayah Nurul Islam, Tengku Fitriadi Baharuddin, didampingi pengawas yayasan Muhammad Rafli, saat ditemui di dayah, 1 Juni 2024 lalu.

Rafly yang merupakan geuchik setempat juga menambahkan bahwa di hari Jumat semua dewan guru dan pengasuh sedang istirahat, namun selalu sigap bila ada laporan kejadian.

“Saat kejadian itu tidak langsung dilapor ke pihak dayah melainkan langsung dibawa pulang oleh sepupunya, karena kan hari Jumat para pengurus, pengasuh dan guru kan istirahat bukan tidak kita hiraukan santri, kan tidak mungkin kita menempatkan pengawas per kamar santri,” jelasnya.

Kasus ini mengingatkan tentang pentingnya perlindungan dan keamanan di institusi pendidikan. Semua pihak diharapkan dapat bersatu dalam upaya mencari solusi yang adil dan mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan.

Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, Iptu Ibrahim, saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya sedang meminta keterangan terkait laporan dugaan penganiayaan tersebut. Proses penyelidikan sedang berlangsung untuk memastikan keadilan bagi korban.

Kisah AHK menjadi cermin bagi semua pihak bahwa perlindungan dan keamanan anak di lingkungan pendidikan harus menjadi prioritas utama. Semua pihak, baik itu pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat, harus bekerja sama untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan di sekolah.

Semua pihak berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan, dan proses hukum terhadap kasus ini dapat berjalan dengan adil dan transparan, sebagai bentuk keadilan bagi korban dan masyarakat luas.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *