Pilkada Aceh Besar Diharap Lahirkan Pemimpin yang Mampu Menyelesaikan Masalah

  • Bagikan
Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Aceh, Usman Lamreung. Foto: MITABERITA.com

MITABERITA.com | Pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan digelar serentak pada November 2024 mendatang. Partai politik mulai menjaring kandidat calon terbaik yang akan diusung untuk merebut tampuk kekuasaan, baik ditingkat propinsi maupun tingkat kabupaten dan kota.

Termasuk diantaranya Kabupaten Aceh Besar, yang sudah muncul nama-nama calon kandidat bupati. Nama-nama yang muncul seperti dipublikasi pada berbagai media.

Dua nama yang populer dan sudah menyatakan dirinya siap, yaitu eks kader PPP yang kini berlabuh ke PKB, H Musannif, dan eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Syekh Muharam.

Nama lain yang muncul masih sebatas sebaran isu di media sosial, diantaranya Ketua DPRK Aceh Besar Iskandar Ali, Anggota DPRA Ansari Muhammad, dan Teuku Ibrahim.

“Ketiga nama tersebut tentu akan melihat peluang dan perkembangan dinamika politik internal partai dan dinamika politik di Aceh Besar,” kata Pengamat Politik Dr Usman Lamreung, Kamis 11 April 2024.

Apalagi ada calon kandidat pemenang Pileg pada Februari 2024 lalu, yang mengharuskan mereka untuk mengundurkan diri bila berkeinginan mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah.

“Kabarnya lagi incamben Mawardi Ali juga akan ikut dalam pertarungan Pilkada Aceh Besar, tentu kabar ini bisa saja benar atau tidak. Namun kita berharap ada putra-putri terbaik Aceh Besar agar berpartisipasi dalam Pilkada Gubernur Aceh,” ujar Usman Lamreung.

Selain itu, lanjut Akademisi Universitas Abulyatama tersebut, ada kabar yang berhembus Zul Bintang berencana ingin berpatisipasi dalam Pilkada Aceh Besar.

Usman menyebut bahwa semakin banyak kandidat bupati Aceh Besar yang akan berpartisipasi pada Pilkada 2024 maka akan semakin baik dan bagus.

“Namun perlu juga dipahami kekuatan partai politik yang berpengaruh di Aceh Besar adalah PAN, PA, PKB, PKS, Nasdem, Demokrat, dan beberapa partai lainnya,” tuturnya.

Menurutnya, PAN dan PA sudah dipastikan bisa mengusulkan calon bupati sendiri tanpa harus berkoalisi, sementara partai lain kemungkinan harus berkoalisi.

“Bila partai politik lain harus berkoalisi maka akan ada loby-loby politik antar partai dan akan berpengaruh pada jumlah peserta calon kandidat bupati, yang pastinya kandidat menjadi sedikit, bisa saja dua, atau tiga pasangan calon,” jelasnya.

“Kecuali ada yang ingin maju melalui jalur Independen, tapi ini mungkin agak berat administrasi yang harus dipenuhi,” sambungnya.

Dia mengatakan, dengan berbagai dinamika politik yang terjadi, nama-nama yang muncul saat ini bisa saja berubah setelah partai politik melakukan penjaringan dan diputuskan calon kandidat.

“Namun dari semua itu kita berharap dalam penjaringan yang dilakukan partai politik benar-benar selektif dan calon yang diusung bukan saja dilihat dari popularitasnya saja, tapi kita berharap calon juga punya gagasan, tau masalah dan mampu menyelesaikan masalah,” tegasnya.

“Begitu juga saat mereka menyampaikan gagasan dan program pembangunan benar-benar mampu untuk dijalankan saat mereka terpilih,” harap Usman.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *