Kriteria Pemimpin untuk Kota Banda Aceh yang Lebih “Beradab”

  • Bagikan
Akademisi USK yang juga Pengamat Ekonomi, Dr Amri SE MSi. Foto: dok. Pribadi

MITABERITA.com | Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh telah mengeluarkan pengumuman terkait jadwal pendaftaran pasangan calon kepala daerah untuk Pilkada Aceh tahun 2024.

Kini, publik termasuk para akademisi dan pengamat juga mulai membicarakan sosok calon kepala daerah yang akan dipilih pada Pilkada mendatang, baik calon walikota, bupati, maupun calon gubernur, untuk Aceh yang lebih baik ke depan.

Salah satunya Akademisi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Dr Amri SE MSi, yang mulai menyampaikan saran-saran kepada masyarakat untuk memilih calon pemimpin yang layak untuk Kota Banda Aceh.

Pengamat Ekonomi tersebut mengatakan, Kota Banda Aceh merupakan miniaturnya Aceh karena pusat pemerintahan provinsi Aceh berada di Banda Aceh. Hampir semua top manajemen eksekutif, legislatif, yudikatif baik instansi vertikal maupun horizontal berdomisili di Kota Banda Aceh.

Karena itulah, kata Dr Amri, menjadi walikota Banda Aceh tidaklah sama seperti menjadi bupati di daerah terpencil di Aceh. Sebab, banyak persoalan di Kota Banda Aceh yang harus diselesaikan.

“Mulai air bersih, lalulintas jalan raya semisal simpang tujuh Ulee Kareng yang sekarang sudah menjadi ‘simpang siur’, dan cukup banyak persoalan lainnya, jadi dibutuhkan pemimpin yang kuat untuk memimpin kota Banda Aceh,” katanya, dalam wawancara dengan wartawan MITABERITA.com, di Banda Aceh, Ahad 21 April 2024.

Mantan Sekretaris Program Magister Management Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala itu menegaskan, adanya strong manajemen apabila ada strong leadership. “Untuk menghadirkan manajemen pemerintahan kota yang bagus maka butuh pemimpin yang kuat,” ucapnya.

Ia berharap kepada masyarakat Kota Banda Aceh, agar jangan memilih manajer atau direktur untuk Kota Banda Aceh, tapi yang harus dipilih adalah seorang pemimpin yang punya visi dan misi untuk kemajuan kota, sehingga Banda Aceh menjadi kota yang lebih beradab.

“Butuh sosok baru untuk memimpin Kota Banda Aceh, yaitu sosok yang peduli kepada kota ini, peduli kepada masyarakat secara adil, bukan yang hanya menguntungkan satu kelompok saja,” katanya.

Amri menjelaskan, tujuan pemimpin yang peduli kepada masyarakat secara adil bukan hanya untuk satu kelompok, agar pemimpin dan masyarakat saling mencintai, sehingga muncul kepedulian bersama untuk membangun kota.

“Kalau peduli hanya untuk satu kelompok saja atau hanya untuk kaumnya saja, maka banyak orang yang tidak senang, sehingga dapat menghambat kemajuan kota sebagaimana harapan kita semua,” tegasnya.

“Jadi Wali Kota Banda Aceh haruslah pemimpin yang visioner, yaitu pemimpin Inspiratif dan transformatif, bukan pemimpin yang transactional (Transactional leadership), pemimpin transactional itu hanya berpikir ‘padum bata padum batee padum ikah padum ikee (berapa bata berapa batu berapa engkau berapa aku,” imbuhnya.

“Kalau yang terpilih pemimpin transactional, lanjutnya, maka tidak mungkin Banda Aceh bisa menjadi kota yang Madani, kota yang beradab, atau kota tamaddun sesuai dengan syariat Islam,” tutupnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *