Dugaan Kecurangan dalam Muswil SEMMI Aceh

  • Bagikan
Foto: dok. Pribadi

MITABERITA.com | Musyawarah Wilayah (Muswil) III Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Provinsi Aceh pada Sabtu 27 April 2024 diduga ada serangkaian kecurangan yang mencoreng integritas dan legitimasi proses demokratis.

Dalam rilis yang diterima media ini, Senin 29 April 2024, Rieza Alqusri, Tim Pemenangan Teuku Wariza Aris Munandar mengatakan, Teuku Wariza Aris Munandar tidak mengundurkan diri dari Muswil. Sebaliknya, tindakan untuk menghentikan forum adalah protes terhadap ketidaknetralan dan dugaan manipulasi yang terjadi dalam acara tersebut.

“Tindakan menghentikan forum bukanlah keputusan pribadi dari Teuku Wariza Aris Munandar, melainkan sebagai bentuk protes terhadap kecurangan yang terlihat jelas dilakukan oleh panitia pelaksana Muswil,” ujarnya.

Menurut dia, pendaftaran cabang-cabang setelah batas waktu yang ditentukan, dan pengisian berkas-berkas setelah penutupan waktu perpanjangan, adalah contoh nyata dari manipulasi prosedur yang merugikan prinsip demokrasi dan transparansi.

“Hal ini terjadi pada beberapa cabang seperti Simeulue, dan Aceh Tamiang,” sebutnya.

Dia menyesalkan karena panitia tetap melanjutkan forum, sementara pihaknya mengaku tidak mengetahui. Dia menyebut hal itu sebagai bukti jelas dari ketidaknetralan dan kurangnya transparansi dalam pelaksanaan musyawarah.

“Hal ini mencerminkan sikap yang tidak adil dan menunjukkan ketidaksiapan untuk menghadapi kebenaran. Langkah seperti ini merusak integritas proses Muswil dan menuntut peninjauan yang cermat serta tindakan tegas untuk memastikan keadilan sejati,” tegasnya.

Rieza Alqusri menegaskan, proses Aris Munandar sebagai Ketua SEMMI menciderai amanat konstitusi SEMMI, dengan alasan tidak melibatkan SC yang menjadi pelaksana Muswil.

“Karena kami bukan walk out, forum belum dibuka oleh SC. Malah mereka buka forum sendiri. Jadi kecurangan itu sangat jeles terjadi dan itu sangat memalukan,” ucapnya.

Dia menjelaskan, harusnya panitia pelaksana muswil menjadi contoh teladan dalam integritas, bukan hanya dalam retorika belaka. Pihaknya tidak terima hasil yang diklaim tidak fair itu.

“Karena dalam pertarungan ini, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan integritas. Jika memang kita ditakdirkan sebagai pemenang, mari kita jadikan kemenangan itu sebagai bentuk komitmen kita untuk membawa perubahan yang positif bagi SEMMI Aceh,” katanya.

“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menegakkan prinsip demokrasi dan transparansi dalam organisasi. Kami berkomitmen untuk terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran demi kemajuan SEMMI Provinsi Aceh,” tutupnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *