Pemimpin Berkarakter Kuat untuk Aceh

  • Bagikan
Ilustrasi pilkada. (Foto: dok. NU Online)

“Sudah saatnya hadir di Aceh sosok pemimpin yang datang dengan perspektif baru, formula baru, untuk membawa Aceh ke arah yang lebih maju dan sejahtera,” Usman Lamreung.

Pemilihan Umum tahun 2024 sudah selesai. Hasil pemilu sudah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Rabu 20 Maret 2024, yang mana pasangan Prabowo-Gibran dinyatakan terpilih sebagai pemenang Pilpres 2024 dan 8 partai politik lolos ambang batas, termasuk sejumlah parpol yang gagal lolos.

Pasca Pemilu 2024, kini kelompok pendukung calon kepala daerah baik gubernur maupun bupati/wali kota mulai membicarakan tentang pemilihan kepala daerah (Pilkada), tak terkecuali di Aceh. Bahasan tentang sosok calon gubernur dan calon wakil gubernur Aceh mulai hangat dibicarakan publik.

Ada tawaran calon calon yang diajukan ke publik melalui diskusi, termasuk melakukan survei dengan cara polling di media sosial dan group group WhatsApp. Salah satu tujuannya untuk mengukur elektabilitas calon yang ingin diajukan sebagai calon gubernur maupun calon wakil gubernur Aceh pada Pilkada 2024.

Sudah menjadi budaya dalam politik di Indonesia dan Aceh secara khusus, ukuran layak atau tidaknya seorang calon gubernur dan bupati/wali kota untuk lebih ditekankan pada aspek elektabilitas semata. Artinya dominan yang dilihat adalah elektabilitas, bukan gagasan calon, apakah calon paham masalah, tahu solusi yang diambil untuk dijalankan, serta menguji gagasan dan solusinya melalui kajian akademik di kampus, sehingga melahirkan sebuah konsep bagaimana membangun Aceh di masa depan.

Melihat Aceh yang masih banyak persoalan yang wajib diselesaikan ke depan, sudah saatnya mendorong kriteria utama calon gubernur-wakil gubernur, bupati-wakil bupati, wali kota-wakil wali kota dalam proses seleksi dan suksesi kepemimpinan politik dengan lebih melihat pada kualitas bukan hanya sekedar popularitas dan elektabilitas. Pilkada tahun 2024 harus kita jadikan momentum untuk memulai gerakan ‘criteria mainstreaming’ ini.

Elemen masyarakat Aceh perlu merumuskan kriteria-kriteria ideal apa saja yang dibutuhkan sebagai syarat untuk mendapatkan pemimpin pemimpin terbaik untuk Aceh di masa yang akan datang.

Beberapa catatan yang mungkin bisa memperkaya, calon pemimpin Aceh harus memiliki kejelasan dalam konsep membangun Aceh. Visi, misi, dan strateginya harus betul-betul memiliki arah yang jelas dan terukur. Aceh ini dibangun dengan otak bukan dengan otot. Karena itu ketajaman visi dan konsep ini menjadi indikator penting untuk mengukur kualitas intelektual calon pemimpin Aceh ke depan.

Butuh Pemimpin Berkarakter Kuat

Aceh membutuhkan seorang pemimpin yang berkarakter kuat dalam tekad dan komitmennya semata-mata untuk membangun Aceh. Aceh sebenarnya memiliki dan peluang yang sangat besar untuk maju, namun semua ini terbuang sia-sia karena selama ini para pemimpinnya lebih bertekad dan berkomitmen dengan hal-hal yang lain, tidak kasihan sama rakyatnya yang tetap miskin dan menderita.

Kepemimpinan politik di Aceh selama ini selalu terperosok dalam ke dalam lubang yang sama, pola kegagalan yang sama. Mereka datang silih berganti tapi kondisi Aceh tak pernah berubah, tetap miskin dan tertinggal. Oleh karena itu sudah saatnya hadir di Aceh sosok pemimpin yang datang dengan perspektif baru, formula baru, untuk membawa Aceh ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Mewujudkan pembangunan yang merata dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Aceh.

Membangun Aceh ini berat tantangannya. Kepentingan pribadi dan kelompok seringkali merasuk, menginterupsi dan memaksakan kehendaknya dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Untuk itu Aceh sangat membutuhkan pemimpin yang kuat dan berani menghadapi segala bentuk tekanan dan gangguan baik internal maupun eksternal, senantiasa bekerja dan bertindak atas nama dan demi kepentingan rakyat Aceh.

Salah satu faktor yang menyebabkan pembangunan Aceh selama ini gagal adalah karena tidak terbangunnya sebuah skema bersama antara Pemerintah Aceh dengan pemerintah kabupaten/kota dalam membangun satu Aceh. Semua cenderung mengedepankan ego sektoral dan teritorialnya masing-masing. Ini terjadi karena buruk dan minimnya komunikasi politik antara gubernur dengan bupati dan wali kota.

Ke depan Gubernur Aceh harus lebih inklusif dan aktif dalam membangun komunikasi dengan para bupati dan wali kota dalam satu semangat dan cita-cita membangun Aceh.

Aceh salah satu daerah yang mendapat pengawasan dan pemantauan secara khusus dari KPK. Suka tidak suka ini adalah indikasi bahwa Aceh merupakan daerah yang berada dalam kelompok peringkat teratas sebagai daerah paling rawan korupsi di Indonesia. Bahkan disinyalir kuat kegagalan dana Otsus dalam mensejahterakan rakyat Aceh itu karena masifnya perilaku korupsi di daerah ini.

Sosok Pemimpin yang Diharapkan

Oleh karena itu, langkah pertama untuk memastikan pembangunan Aceh tidak bocor dan memberikan dampak optimal bagi rakyat, maka sudah harus diterapkan zero corruption di Aceh. Syaratnya tentu harus dimulai dengan kehadiran kepemimpinan politik yang memiliki komitmen anti korupsi yang kuat, untuk kemudian menyebarkan virus baik ini ke semua jenjang struktur pemerintahan yang ada di Aceh.

Selama ini kegagalan pembangunan Aceh sudah sampai pada tingkat sistemik. Artinya sudah sangat rumit dan berkelindan akibat buruknya kinerja mesin birokasi baik karena penyakit bawaan maupun karena diinjeksi oleh virus kepentingan politik penguasa dan oligarkinya. Aceh lima tahun ke depan sangat membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kemampuan manajerial yang kuat dalam membenahi dan meluruskan kerja-kerja birokrasi pemerintah Aceh dan mampu memastikan birokrasinya betul-betul bekerja menjadi pelayan rakyat, bukan malah dimanfaatkan sebagai saluran bagi pemenuhan kepentingan pribadi dan kelompok serta oligarki sponsor kekuasaan.

Pemimpin Aceh ke depan haruslah sosok visioner yang mampu menghadirkan harapan baru bagi seluruh rakyat Aceh yang sudah sangat frustrasi dan kecewa dengan janji manis para pemimpin Aceh sebelumnya. Datang dengan platform dan budaya kerja yang baru untuk menghadirkan Aceh baru yang lebih maju, makmur dan sejahtera, sebagaimana menjadi harapan besar dan cita-cita seluruh rakyat Aceh.

Calon Gubernur Aceh ke depan haruslah sosok yang mampu menggerakkan dan mewujudkan perubahan yang betul-betul konkrit, tidak lagi bergaya seperti penguasa awang-awang yang gemar bermain peran dengan narasi dan aksi-aksi normatif dan simbolik. Gaya-gaya kepemimpinan seperti inilah yang selama ini terus membuat Aceh gagal dan tertinggal. Saatnya Aceh dipimpin oleh sosok yang betul-betul pemimpin yang senantiasa berorientasi pada kemajuan-kemajuan yang konkrit dan riil.

Pemimpin Aceh ke depan haruslah sosok yang mampu menghadirkan harapan baru bagi seluruh rakyat Aceh yang sudah sangat frustrasi dan kecewa dengan janji manis para pemimpin Aceh sebelumnya. Datang dengan platform dan budaya kerja yang baru untuk menghadirkan Aceh baru yang lebih maju, makmur dan sejahtera, sebagaimana menjadi harapan besar dan cita-cita seluruh rakyat Aceh.

Inilah harapan besar rakyat Aceh, agar Aceh masa depan mampu keluar dari berbagai masalah ketertinggalan, yang selama ini terjadi berulang kali biarpun silih berganti kepemimpinan baik di propinsi maupun di kabupaten/kota namun tetap berprilaku sama dalam kepemimpinannya. Masa depan Aceh ada ditangan rakyat Aceh untuk memilih pemimpin yang benar-benar mampu membawa Aceh baru sesuai nilai-nilai syariah, tidak korupsi, memperkaya diri, kelompok, dan oligarki.

 

Usman Lamreung: Pengamat Politik – Direktur Lembaga Emirate Development Research (EDR)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *