LBH CaKRA Menilai Oknum Satpol PP Lhokseumawe Melanggar HAM

  • Bagikan
Ketua LBH CaKRA Fakhrurrazi SH saat mendatangi Kantor Satpol PP Kota Lhokseumawe, Jumat 5 Januari 2024. (Foto: KBA.ONE, Dedy)

MITABERITA.com | Seorang anak dibawah umur berinisial MR di Kota Lhokseumawe, Aceh, diduga mendapat perlakuan kekerasan atau penganiayaan pada saa ditangkap dan ditahan oleh oknum Satpol PP Lhokseumawe.

Hal itu diungkap Ketua LBH Cahaya Keadilan Rakyat Aceh (CaKRA) Fakhrurrazi SH, yang mendatangi Kantor Satpol PP Lhokseumawe, pada
Jumat 5 Januari 2024 kemarin.

Fakhrurrazi menjelaskan, menurut informasi yang diterima LBH CaKRA, anak tersebut ditangkap pada malam tahun baru pada saat si anak sedang berkumpul bakar-bakar ikan bersama kawannya.

“Jadi korban anak ini sudah lima hari ditahan di sel Satpol PP tanpa adanya surat pemberitahuan kepada orang tua si anak, sehingga menurut kami ini pelecehan terhadap hukum, padahal secara hukum diatur bagaimana tatacara melakukan tindakan hukum terhadap kasus tindak pidana anak,” ujar Fakhrurrazi kapada MITABERITA.com, Sabtu 6 Januari 2024.

Ketua LBH CaKRA itu mengatakan, anak berusia 16 tahun yang kini menjadi kilennya itu merupakan warga Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Menurutnya, anak tersebut dituduh melanggar syariat Islam pada malam tahun baru.

Yang membuat miris kata Fakhrurrazi, bukan perkara penangkapan anak dengan tuduhan melanggar syariat Islam, tapi ada dugaan tindak pidana kekerasan dan pengiayaan terhadap anak dibawah umur, yang diduga dilakukan oknum Satpol PP Lhokseumawe.

Itu sebabnya, pada Jumat kemarin, ia sebagai kuasa hukum anak tersebut yang diikuti oleh sejumlah wartawan setempat mendatangi Kantor Satpol PP untuk bertemu langsung dengan pimpinan instansi tersebut dan berencana meminta penjelasan.

“Kami datang ke kantor langsung karena menurut kami ada hal yang perlu kami sampaikan, sekaligus meminta penjelasan ke Satpol PP, tapi saat kami datang tidak ada pimpinan dan tidak ada satu pun pejabat berkompeten yang mau bicara. Padahal kami juga datang pada saat jam dinas,” ungkapnya.

Yang perlu dicatat, kata dia, orang tua korban sama sekali belum mendapatkan pemberitahuan dan penjelasan dari Satpol PP terkait penangkapan anaknya yang masih di bawah umur tersebut.

“Kami datang kemarin ke Kantor Satpol PP untuk mendapatkan penjelasan terkait dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan oknum Satpol PP. Karena jika pun klien kami bersalah, maka tindakan kekerasan atau penganiayaan tidaklah dibenarkan secara hukum. Apalagi ini kan anak di bawah umur,” tegasnya.

Bukan itu saja, Fakhrurrazi juga menyampaikan, hingga saat ini belum ada surat resmi penahanan terhadap anak tersebut. Bukan itu saja, klien kami yang masih anak-anak juga ditahan dalam satu sel dengan orang dewasa, ini tidak dibenarkan secara hukum,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua LBH CaKRA juga menilai dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan oknum Satpol PP Lhokseumawe terhadap anak di bawah umur itu merupakan pelanggaran HAM.

“Kami menilia bahwa ada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum Satpol PP Lhokseumawe terhadap klien kami yang masih anak di bawah umur,” ungkapnya.

Fakhrurrazi menuturkan, saat mendatangi Kantor Satpol PP pada Jumat 5 Januari 2024 kemarin, ia juga sempat mendengar bahwa kliennya ditangkap karena melarikan diri pada saat petugas Satpol PP melakukan patroli.

Namun demikian, lanjut dia, tindakan penganiayaan hingga membuat kepala anak tersebut berdarah juga tidak dibenarkan secara hukum. Ditambah lagi anak tersebut diduga ditahan di satu ruang tahanan dengan orang dewasa.

Menanggapi hal itu, Kasatpol PP Kota Lhokseumawe Heri Maulana dengan tegas membantah bahwa ada penganiayaan terhadap anak tersebut. Dia bahkan dengan tergas mengatakan bahwa anak yang ditangkap itu merupakan begal.

Dalam pernyataan pers yang diterima media, Sabtu 6 Januari 2024, dia menuding bahwa anak berinisial MR tersebut merupakan pelaku begal bersenjata yang kerap mengulangi perbuatan meresahkan masyarakat.

“Sebelumnya orangtua pelaku yang kewalahan mengatasi kenakalannya meminta bantuan Satpol-PP agar anaknya diberikan pembinaan,” klaim Heri Maulana.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *