Kasatpol PP-WH Lhokseumawe Tuding Anak Dibawah Umur Begal

  • Bagikan
Kasatpol PP Kota Lhokseumawe, Heri Maulana. Foto: Serambinews

MITABERITA.com | Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP-WH) Kota Lhokseumawe, Heri Maulana menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak muda tertipu dengan pelaku begal dan pelanggar syariat Islam yang mengaku sebagai korban kekerasan.

Hal itu disampaikan Kasatpol PP Lhoksemawe menyikapi adanya berita di sejumlah media yang mengabarkan bahwa Kuasa Hukum dari seorang anak dibawah umur yang ditangkap Satpol PP, mendatangi instansi yang dipimpinnya pada Jumat 5 Januari 2024.

Seperti diberitakan sejumlah media, kedatangan kuasa hukum anak dibawah umur tersebut untuk meminta penjelasan kepada Kasatpol PP Lhokseumawe tentang dasar hukum penahanan anak tersebut, yang diduga juga mengalami penganiayaan dari oknum satpol pp.

Baca: LBH CaKRA Menilai Oknum Satpol PP Lhokseumawe Melanggar HAM

Menanggapi hal itu, Kasatpol PP Kota Lhokseumawe Heri Maulana dengan tegas membantah bahwa ada penganiayaan terhadap anak tersebut. Dia bahkan dengan tergas mengatakan bahwa anak yang ditangkap itu merupakan begal.

Dalam pernyataan pers yang diterima media, Sabtu 6 Januari 2024, dia menuding bahwa anak berinisial MR tersebut merupakan pelaku begal bersenjata yang kerap mengulangi perbuatan meresahkan masyarakat.

“Sebelumnya orangtua pelaku yang kewalahan mengatasi kenakalannya meminta bantuan Satpol-PP agar anaknya diberikan pembinaan,” klaim Heri Maulana.

Kasatpol PP Lhokseumawe itu menuding anak tersebut bersama komplotan begalnya kerap beraksi di tempat umum dengan menenteng senjata tajam berupa pedang dan parang.

“Namun sayangnya, pada malam tahun baru lalu, pelaku yang sedang dalam pembinaan justru kabur dan kembali bergabung dengan kelompok begalnya,” katanya.

“Kemarin, orang tua korban mendatangi kami di kantor dan meminta anaknya untuk dibina, hal serupa juga dimintai oleh orangtuanya saat melakukan perbuatan sebagai mucikari online bodong yang ditangkap oleh petugas,” ujar Heri.

Menurutnya, anak tersebut sudah pernah ditangkap dan dibina, tapi kabur dan kembali bergabung dengan komplotan begalnya untuk melakukan tindakan pelanggaran hukum lagi. Selanjutnya, anak tersebut kembali ditangkap oleh Satpol PP.

Dia mengklaim bahwa mereka ditangkap saat petugas gabungan  menindaklanjuti adanya informasi kelompok begal bersenjata tajam hendak melakukan tawuran di Keude Aceh.

“Saya heran, kini mereka mendatangi kantor dengan berdalih anaknya mendapatkan kekerasan oleh petugas saat petugas mengamankan remaja-remaja nakal atau geng di Kota Lhokseumawe,” dalih Heri.

Dia juga menyebut alasan anak tersebut tidak berhasil kabur karena pada saat melarikan diri berhasil dikepung oleh petugas. Heri juga mengatakan alasan kepala anak tersebut berdarah karena dihakimi oleh masyarakat setempat.

“Bahkan, saat pengamanan berlangsung, petugas mendapatkan senjata tajam berupa celurit panjang oleh pelaku. Namun saya tidak menyangka kalau pelaku begal dan pelanggar syariat itu justru meminta bantuan hukum pengacara untuk mempersoalkan masalah ini,” ujarnya.

Heri menyebutkan bila pelaku begal dan pelanggar syariat mendapat pembelaan, maka nantinya masyarakat juga yang akan merasa resah.

“Karena di Kota Lhokseumawe sangat banyak kasus remaja kelompok begal bersenjata tajam kian merajalela dan warga menjadi korbannya. Begitu pun dengan pelanggar syariat yang diduga mucikari akan bebas menjajakan gadis untuk pria berhidung belang,” jelasnya.

Heri juga mengingatkan bahwa Kota Lhokseumawe masih marak dengan aksi begal bersenjata tajam yang meresahkan warga. Ia menekankan komitmen pihaknya untuk menindak tegas pelaku kejahatan dan pelanggar syariat sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Mari kita bersama-sama menjaga Kota Lhokseumawe tetap kondusif dan menjunjung tinggi nilai-nilai syariat. Jangan biarkan oknum-oknum tertentu mengganggu keamanan dan ketentraman kita,” kata Heri.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *