Alasan Arab Saudi Izinkan Penjualan Alkohol

  • Bagikan
Alasan Arab Saudi Izinkan Penjualan Alkohol. Foto: Ilustrasi - GeorgeRudy

MITABERITA.com | Arab Saudi memberikan izin penjualan alkohol setelah 72 tahun melarang hal tersebut. Toko alkohol pertama dibuka di Riyadh, yang diketahui sering dikunjungi diplomat non-muslim.

Arab Saudi beralasan bahwa keputusan itu diambil untuk mengatasi peredaran miras di pasar gelap. Padahal Alkohol dilarang di Arab Saudi sejak 1952.

Saat itu, seorang pangeran Saudi dikabarkan membunuh seorang diplomat Inggris karena sedang mabuk dan marah. Alkohol juga dilarang dalam Islam dan mayoritas masyarakat Arab Saudi sangat taat beragama.

Namun, situasi itu tidak menghentikan masuknya miras ke negara itu. Alkohol selama ini masih ramai di Arab Saudi, namun peredarannya di balik pintu-pintu yang terkunci dan pasar gelap.

Banyak kantor kedutaan asing yang bisa mendatangkan alkohol dengan menjalin kesepakatan khusus dengan pemerintah. Sementara beberapa di antaranya menyelundupkan alkohol lewat ‘kantong diplomatik’ yang tak dapat diperiksa.

Dari sana, menurut sejumlah ekspatriat dan penduduk lokal, alkohol dijual di pasar gelap dengan selisih harga yang sangat mahal.

“Semua orang tahu kedutaan mana yang menjual minuman keras. Beberapa dari mereka bahkan telah membuat bisnis sampingan dari minuman tersebut, menjualnya di pasar gelap dengan harga empat, lima, bahkan sepuluh kali lipat dari harga normal. Ini menjadi konyol. Pemerintah harus melakukan sesuatu,” ucap seorang Investor anonim yang bekerja di Arab Saudi dikutip dari CNBC, Sabtu 27 Januari 2024.

Sebotol vodka berukuran satu liter, misalnya, biasanya berharga antara US$ 500 atau Rp 7.887.500 (kurs Rp 15.775) dan US$ 600 atau Rp 9.465.000 di pasar gelap. Adapun satu botol Johnnie Walker Blue Label berharga antara US$ 1.000 atau Rp 15.775.000 dan US$ 2.000 atau Rp 31.550.000.

Di sisi lain, pembuatan minuman keras berskala rumah tangga juga telah dilakukan di kerajaan selama beberapa dekade, menurut ekspatriat yang sebelumnya pernah tinggal di sana.

Sistem pembelian alkohol di Arab Saudi pun kini menggunakan aplikasi bernama Diplo dan harus berdasarkan persetujuan Kementerian Luar Negeri. Pembelian pun dibatasi kuota dengan sistem pencatatan per bulan.

Menurut sejumlah narasumber, seperti dilansir Detikcom, sistem ini diusung untuk mengatasi penyelundupan alkohol yang selama ini terjadi.

“Pemerintah tahu banyak alkohol berpindah dari jumlah yang diperbolehkan di kedutaan ke pasar gelap. Sekarang aplikasi ini diterapkan di mana mereka akan mendapatkan jumlah yang dialokasikan dengan pemantauan dari tempat terpusat,” beber seorang pengusaha asal Provinsi Khobar.

Informasi itu pun dikonfirmasi oleh Pemerintah Arab Saudi lewat keterangan tertulis. Peraturan kuota alkohol untuk misi diplomatik diberlakukan untuk “melawan perdagangan gelap barang-barang beralkohol,” tulis Pusat Komunikasi Internasional Arab Saudi.

Kendati demikian, Kementerian Luar Negeri Saudi dan CIC belum menanggapi permintaan komentar yang dilayangkan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *