Majelis Pemuda Woyla Undang Abati Dahlan Kaji Tentang Kewajiban Menuntut Ilmu

  • Bagikan
Majelis Pemuda Woyla. Foto: MITABERITA

MITABERITA.com | Majelis Pengajian Pemuda Woyla, mengundang Abati H Muhammad Dahlan Jungka Gajah, Pimpinan Dayah Darul Madaris Jungka Gajah, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara yang juga alumni Dayah Budi Mesja Lamno.

Ketua Majelis Pemuda Woyla, Mucksin Saputra didampingi Humas, Tgk Arika Amalia, mengatakan tema yang diangkat adalah tentang “Kewajiban Menuntut Ilmu untuk Mencapai Hijrah Sejati”.

Kegiatan itu digelar di Dayah Miftahul Jannah, Lueng Jawa, Woyla, Aceh Barat, Sabtu malam Desember 2023.

Majelis Pengajian Pemuda Woyla asuhan Walid Abdullah Arif ini mengkaji kitab “Sirâjut Thâlibîn” karangan ulama besar Nusantara, Syekh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî al-Jâwî, lebih dikenal dengan nama Syekh Ihsan Jampes, atau dikenal juga kitab syarah kitab tasawuf “Minhâjul ‘Âbidîn” karangan Hujjatul Islâm Imâm al-Ghazâlî (w. 1111 M).

Materi Pengajian Pemuda Woyla di Bale Manyang tersebut antara lain, terkait batas ilmu yang wajib dituntut setiap muslim mukallaf. Hal Ini penting dikaji karena pada umumnya hanya mengetahui tentang kewajiban menuntut ilmu, namun masih banyak belum tau batasan ilmu yang wajib diketahui pada ilmu Tauhid , Fiqah, dan Tasawuf.

Batasan ilmu tauhid yang wajib dituntut oleh setiap individu adalah mengenal Allah dengan sifat-sifat-Nya yang disertai dengan dalil-dalilnya, adapun tujuan mengetahui sifat Allah disertai dalilnya agar syarat kesempurnaan iman dan tauhid sesuai dengan batas minimal lepas dari status taqlid.

Kemudian ilmu fikih yang wajib dipelajari untuk mengetahui kewajiban ibadah yang sah, begitu juga muamalah yang sesuai syariah dan terakhir faham batas minimal tentang munakahat dan jinayah.

“Sedangkan ilmu Tasawuf batasan yang wajib dituntut adalah mengenal segala amalan yang menyangkut dengan hati , seperti ikhlas, tawakal, dan lain – lain,” kata alumni BUDI Mesja Lamno ini.

Abati Dahlan juga memberi beberapa pesan kepada pemuda, menuntut ilmu adalah satu kewajiban yang tidak ada tawar menawar. Bahaya sekali jika seseorang kosong dari ilmu, karena orang bodoh adalah musuh Allah.

Abati juga menggambarkan sebuah perumpamaan terhadap orang menuntut “Ureung beut lagee ureung saket jak meu ubat, hana ek cara rawat inab, ta meubat secara rawat jalan. Bek sampe saket kabrat ta meu ubat han, dan yang bahaya lom ka get seb brat saket mantong merasa droe teuga” (orang mengaji ibarat orang sakit berobat, tidak mau rawat inap, berobat rawat jalan, jangan sampai sakit sudah parah, tidak mau berobat, dan paling parah sudah sakit berat merasa masih sehat).

“Pesan terakhir abati saat penutupan adalah sering-sering ikuti kajian keagamaan karena beut (mengaji) disamping menghilangkan kejahilan, juga sebagai bentuk mensyukuri nikmat umur,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *