Hasil Survei: Prevalensi Stunting di Aceh Besar Turun Signifikan

  • Bagikan
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Aceh Besar, Juni Asma, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis 20 Juli 2023. Foto: MC Aceh Besar

MITA | Berdasarkan data dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) pada akhir bulan Juni 2023, angka stunting di Kabupaten Aceh Besar mengalami penurunan signifikan.

Hal itu sesuai dengan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang menyebutkan, angka stunting di Aceh Besar pada tahun 2022 masih pada angka 27,0 persen. 

Untuk diketahui, memasuki tahun 2023 Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus melakukan berbagai upaya dan terus berkolaborasi dengan berbagai stakeholders, untuk percepatan pencegahan stunting.

Hasilnya, berdasarkan data dari E-PPGBM pada akhir bulan Juni 2023, angka stunting di Kabupaten Aceh Besar mengalami penurunan signifikan menjadi 13,4 persen. 

Plt Kadis Kesehatan Aceh Besar melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Aceh Besar, Juni Asma, mengatakan Dinkes Aceh Besar terus melakukan berbagai upaya dalam hal penurunan stunting dengan mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni penguatan regulasi di tingkat provinsi dan daerah dalam mendukung kebijakan program terkait gizi masyarakat.

“Dinkes juga melakukan penguatan kolaborasi dan sinergi dengan stakeholder dalam melakukan percepatan pencegahan stunting. Jadi, capaian ini tentu berkat dukungan seluruh stakeholder yang terkait di Aceh Besar,” katanya. 

Dia menjelaskan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kekurangan asupan gizi dalam waktu lama, serta terjadinya infeksi berulang. 

“Faktor penyebab hal itu diantaranya dipengaruhi oleh pola asupan makanan yang tidak memadai, terutama dalam 1000 HPK. Anak yang tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badan menurut umurnya lebih rendah dari standar nasional yang berlaku,” tuturnya.

Stunting juga mempengaruhi perkembangan otak, sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal. Hal ini berisiko menurunkan produktivitas pada saat dewasa nanti.

Selain itu, stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit. Anak terkena stunting beresiko lebih tinggi menderita penyakit kronis saat masa dewasa.

“Oleh karena itu, penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung,” ujarnya. 

Juni mengungkapkan, Dinas Kesehatan melakukan intervensi spesifik yang merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk mengatasi penyebab langsung terjadinya stunting terhadap balita.

“Karena, kegiatan tersebut dapat diketahui jumlah sasarannya, apalagi saat ini jumlah sasaran 33423 balita, yang terindikasi stunting berjumlah 4486 balita (13,4) persen,” paparnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan Perpres 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting, harus melalui intervensi spesifik seperti Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk remaja putri dan ibu hamil serta pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan Balita.

“Sementara intervensi gizi sensitif, yakni intervensi pendukung untuk penurunan kecepatan stunting,” sebutnya.

Karena, yang menjadi subjek dalam penguatan perilaku untuk penanganan stunting adalah remaja putri, remaja pria, calon pengantin, ibu hamil, dan ibu melahirkan.

“Bicara stunting bukan soal pandangan kita pada balita saja. Subjek kita juga remaja putri dan putra, calon pengantin. Ibu hamil, ibu melahirkan. Kita harus menggeret fokus program pada kelompok-kelompok yang ada ini,” terangnya. 

Ia menambahkan, untuk pencegahan stunting sejak dini, pihak Dinas Kesehatan Aceh Besar juga telah melakukan Intervensi pemberian TTD untuk remaja dan ibu hamil. Mengingat manfaatnya sangat penting bagi tubuh utamanya untuk mencegah anemia. 

“Supaya remaja putri sebelum hamil jangan anemia. Apabila seorang remaja putri menderita anemia dan kemudian hamil maka akan berpotensi melahirkan bayi dengan tubuh pendek (stunting) atau berat badan lahir rendah,” pungkasnya.

(Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *