Bolehkah Puasa Rajab Sebulan Penuh?

  • Bagikan
Ilustrasi jenis-jenis puasa sunnah. Foto: Getty Images/iStockphoto/ferlistockphoto

MITA | Puasa sunnah Rajab bisa menjadi amalan yang dilakukan untuk mengharapkan pahala berlimpah. Apalagi bulan Rajab termasuk dalam salah satu bulan yang mulia.

Tapi bolehkah puasa Rajab sebulan penuh?

Rasulullah SAW telah banyak menjelaskan keutamaan dari puasa sunnah. Beliaupun kerap menjalani puasa sunnah. Dalam sebuah hadits dijelaskan, seorang muslim yang menjalani puasa sunnah maka akan dijauhkan dari api neraka.

Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh jarak tujuh puluh tahun.” (HR Bukhari & Muslim).

Saat ini, kalender Hijriyah menunjukkan bulan Rajab 1444 H. Umat muslim berbondong-bondong memperbanyak ibadah sunnah, termasuk puasa Rajab.

Mengutip buku Rajab, Keutamaan & Hukumnya oleh Ahmad Zarkasih, dijelaskan bahwa jumhur ulama menghukumi bahwa puasa Rajab itu termasuk ke dalam kelompok puasa-puasa sunnah yang tentunya jika dikerjakan ada pahala yang diperoleh, dan tidak ada tanggungan dosa jika ditinggalkan.

Puasa Rajab Sebulan Penuh

Tidak ada dalil yang melarang atau menganjurkan puasa sunnah Rajab dijalankan sebulan penuh. Namun Rasulullah SAW pernah membahasnya bahwa puasa sunnah Rajab bisa dijalankan secara selang-seling atau tidak setiap hari.

Rasulullah SAW bersabda:

Dari Mujibah al-Bahiliyyah, dari bapaknya atau pamannya, bahwa ia mendatangi Nabi. Kemudian ia kembali lagi menemui Nabi satu tahun berikutnya sedangkan kondisi tubuhnya sudah berubah (lemah/kurus). Ia berkata, ‘Ya Rasul, apakah engkau mengenaliku?’ Rasul menjawab, ‘siapakah engkau?’ Ia menjawab, ‘Aku al-Bahili yang datang kepadamu pada satu tahun yang silam.’ Nabi menjawab, ‘Apa yang membuat fisikmu berubah padahal dulu fisikmu bagus (segar).’ Ia menjawab, ‘Aku tidak makan kecuali di malam hari sejak berpisah denganmu.’

Nabi berkata, ‘Mengapa engkau menyiksa dirimu sendiri? Berpuasalah di bulan sabar (Ramadhan) dan satu hari di setiap bulannya.’ Al-Bahili berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih kuat (berpuasa).’ Nabi menjawab, ‘Berpuasalah dua hari.’ Ia berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul.’ Nabi menjawab, ‘Berpuasalah tiga hari.’ Ia berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul.’ Nabi menjawab, ‘Berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah.’ Nabi mengatakan demikian seraya berisyarat dengan ketiga jarinya, beliau mengumpulkan kemudian melepaskannya.” (HR. Abu Daud).

Para ulama menjelaskan, melalui hadits tersebut Rasulullah SAW memerintahkan kepada Sahabat al-Bahili agar puasa di bulan Rajab tidak dilakukan secara terus-menerus, akan tetapi diberi jeda waktu.

Bisa tiga hari berpuasa, tiga hari berbuka. Atau tiga hari berpuasa berturut-turut, selanjutnya diberi jeda satu atau dua hari untuk berbuka, kemudian memulai lagi berpuasa tiga hari. Demikian seterusnya.

Melalui hadits ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa puasa sunnah Rajab tidak memiliki batasan berapa harinya. Namun setiap muslim hendaknya memperhatikan kemampuan diri sendiri.

Wallahua’lam.

Sumber: Detikcom

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *